TONGKY ALEXANDER

“Tongky alexander”. Anak baru itu pun memperkenalkan dirinya ke rekan rekan kantor yang ada di ruangan Team support. Semua mata rekan – rekan pun terpana. Semuanya menatap. Bukan karena dia tampan rupawan seperti pemain sinetron. Tapi karena penampilannya itu loh yang terbilang ajaib. Mirip pegawai pemerintahan angkatan 45.

Kemeja kotak-kotak kecil berwarna kuning pucat. Celana hitam dengan posisi sedikit di atas pinggang dan menggantung pula pada bagian bawah kakinya. Kacamata bulat dengan rambut klimis dibelah pinggir. Mirip seperti Guru fisika yang titelnya segambreng alias professor doctor. Belum lagi…wow..ikat pinggang hijau menantang yang modelnya mirip abis kayak yang dipakai team KAMRA, yang melingkar mantap di pinggangnya. Benar-benar memaksa mata untuk melihat lurus ke ikat pinggang itu. Apalagi tingginya yang semampai. Semeter pun tak sampai. ”Buset, ikat pinggangnya kayak punya engkong gue” bisik surya yang dari tadi hampir tidak kuat menahan tawa. Heran di zaman serba fashion begini masih ada aja yang bergaya nekat. Mungkin niatnya mau bikin gebrakan mode. Mengusung era tahun 45 an. Mau jadi saingan grup naïf atau changcutters mungkin. Mereka mah memang bertujuan komersil. lha kalo yang ini mah sepertinya memang bawaan orok…. Hampir 2 minggu lebih satu ruangan bersama Tongky. Ternyata masih akan ditambah pula kelucuannya yang lain. Setelah diperhatikan dengan seksama ternyata dia punya motif baju yang selalu sama tiap harinya. Hanya warnanya saja yang berbeda-beda. Kemeja dengan kotak kotak kecil. Dari yang warnanya kuning pucat seperti hari pertama masuk kerja, kotak-kotak hijau tua, kotak kotak biru tua, kotak kotak coklat dan biru muda. Dan alamak yang parah celananya itu lho… Selalu sama. Biru dongker. Dari senin-Jumat begitulah pakaian kebesarannya.

“mas, biru donker warna favorit yah?” Tanyaku usil. “Perasaan mas Tongky gak pernah ganti celana. Warnanya itu itu terus. Biru dongker lagi. Biru dongker lagi. Celananya gak pernah di cuci yah, digantung doang ya di belakang pintu.“ penasaran aku bertanya. Pertanyaanku ini ternyata menarik minat rekan-rekan lain yang langsung berhenti serentak dari pekerjaan. Pengen dengar statement langsung dari yang punya celana. “Ooh ini, saya punya selusin mba, warnanya sama jadi kayak gak ganti yah. Maklum Seragam di pt yang lama. Masih bagus. Jadi saya pakai.” jawabnya serius. Yang lain melongo mendengar jawaban yang tak disangka-sangka itu. “Oh, kalo kemejanya kotak kotak terus belinya sekodi ya, Mas?” timpal Rini sekenanya, yang kelihatannya penasarannya juga dengan si Tongky ini. Yang lain kembali mendengarkan dengan seksama percakapan yang kayaknya bisa sedikit melepaskan penat pekerjaan. Dia tersenyum manis. Kelewat manis malah. Dan gigi putihnya langsung keliatan terang bederang benar diantara kulitnya yang hitam legam. ”Ah bisa aja ,mba rini” jawabnya malu. Ampun cara tersenyumnya. Langsung keliatan banget gaya mastengnya. Alias Mas Mas Tangerang. “Dulu kuliah jurusannya apa mas?” Ruri keliatannya udah gatal pengen banget ikutan nyela. ”elektro Mba.”Jawabnya bangga. ”Oh pantesan.” Surya langsung menyela sebelum Ruri sempet mengatakan opininya tentang Tongky. Padahal kerjaannya lagi segudang dan dari tadi kelihatan sibuk banget ngetik surat surat untuk ditandatangin si bos. ”Pantesan kenapa, sur.” pancing dinda menimpali menambah panas suasana. ”Pantesan item, Mas. Kalo lagi gak punya tespen buat ngetes listrik situ pake jari yah mas buat nyoba aliran listriknya.” ucapan surya disambut riuh rekan-rekan yang dari tadi memang sudah gak tahan pengen ngakak. Ah lepas juga deh bisa ketawa ngakak. ”buset sadis amat, mas! Tongky kembali malu. Kalo orang malu mukanya memerah, lucunya begitu si tongky yang malu kenapa mukanya jadi ungu. Saking itemnya kali yah. “Ayam ngerem di kereta api. biar item banyak yang nanti.” Tiba tiba si tongki berpantun ria sambil tersenyum paten. Riuhlah kembali suasana di ruangan kantor kami. Benar-benar lucu nih orang. Dari luar ampe dalam lucu semua. “Mas, celana panjangnya udah lama punya yah?” Seakan akan Ruri tidak mau melewatkan moment cela mencela ini. “oh iya dong saya mah orangnya apik sama barang. Celana ini udah 2 tahun saya pakai. Tapi masih tetap bagus.kan?” Ujarnya bangga. Yakin banget kalo kali ini mereka gak bakalan punya balasan celaan atas keapikannya terhadap barang. “2 tahun mas pake celana ini. Berarti situ tambah tinggi dong. Buktinya sekarang celananya ampe ngatung gitu. 2 tahun lalu pasti belum ngatung kan.” Celetukkan Rury yang benar-benar membuat Tongky mati kutu. Rasanya semua yang melekat pada dirinya sangat layak untuk dicela. Rungan kantorpun kembali riuh gara-gara ucapan Rury. Dia sendiri sampai terpingkal-pingkal sendiri menyadari bahwa ucapannya disambut meriah oleh rekan-rekan yang lain.

Begitulah hari hari kami di ruangan team suppot. Namun karena pada dasarnya si tongky Alexander ini tahan banting. Mungkin menyadari bahwa semua itu memng benar adanya. Celaan demi celaan yang keluar dari mulut kami tidak menjadikan dia patah semangat untuk tetap menjadi team kami. Pelan-pelan kami membantunya untuk mengubah gaya rambut dan cara berpakaiannya. Selain karena kami peduli juga karena tugasnya yang harus ke klien dan membawa misi nama baik kantor. Lama-lama sih dia terpengaruh juga untuk mengganti gaya rambutnya yang jadul menjadi rapi dan enak dilihat. Motif bajunya pun juga berubah. Meski pun tetap kemeja. Setidaknya sudah berganti motif menjadi garis-garis dengan warna yang lebih ceria. Celananyapun berganti menjadi warna abu abu atau hitam meskipun tetap ngatung. Satu lagi, ikat pinggangnya itu. Meskioun tetap kebesaran dibanding mungil badannya tapi setidaknya bukan model angkatan engkongnya surya lagi. Dia sangat berterima kasih atas perhatian kami kepadanya. Meski tanpa mengucapkan kata. Kami tahu betapa dia sangat berterima kasih. Ditambah lagi dengan perhatian lebih dari susana salah satu klien kami yang menggagumi kesabaran beliau dalam mengatasi klien yang galak. Yang salah satunya Susana sendiri. Mungkin karena sudah ditempa di kantor kali yah! So Tongky sukses selalu yah dan tetap jadi orang yang sabar dan selalu mau menerima kritikan buat kebaikan diri sendiri. Mana tahu kelak seorang Tongky bisa menjadi model papan atas. Meski itu hanya in your own dream.

——————————————————————————————————————————————————–