Archive for Januari, 2012

Me Vs Wanita Dalam Diam

Wanita itu duduk dengan tenang

Senyum manis terpatri di wajahnya

Semarak jika berada disisinya

Ucapannya lugas dan mampu menderai tawa

Matanya bening memacarkan kecantikan hatinya

 

Dia tenang

Terlalu tenang bahkan

Sampai letupan magma yang bergemuruh dihatinya

 Tak mampu terlihat di kasatnya mata

 

Tiap bertemu seseorang, siapapun itu…

kerap menumpahkan seluruh isi hati kepadanya…..

Katanya seperti titah dan senyumnya…

lagi-lagi mampu meluruhkan kata-kata yang tak terurai…

 

Sungguhkah hidupnya begitu lurus….

Sungguhkan hidupnya begitu tenang……

Siapakah yang pernah tahu

Adakah yang pernah bertanya

 apa yang berkecamuk dalam diamnya

 

Apa yang pernah terlihat oleh matanya

Apa yang pernah terdengar oleh telinganya

Apa yang pernah terucap oleh bibirnya

Apa yang pernah tertoreh dalam hatinya

Dan sebesar apa pisau yang menancap dan tertanam dalam hatinya.

 

Apa yang pernah membahagiakannya

Apa yang pernah mengurai airmatanya

Dan mengapa dia begitu tenang seperti gunung es?

 

Gunung es?

Begitu tinggi, begitu tenang, begitu diam, penuh misteri

Memaksa banyak mata berhasrat mengungkap rahasianya

Berusaha mendaki….sulit

Tapi disana nanti di ketinggian yang tak terhitung jari…

Akan terlihat keindahan yang tak terbersit di hati dan tertangkap di mata

Dan akan terlihat juga bahwa di dasarnya tetap ada magma yang meletup

Siap melelehkan dunia kala apinya tak terpadamkan….

 

Hai wanita yang terduduk tenang

Terimalah…..

bahwa takdirmu menjadi dingin

bahwa magma itu akan selalu tersimpan disana

apakah ada bedanya bagimu siang dan malam

kesendirian adalah nyata bagimu…

dalam dinginnya malam atau hangatnya  siang

akan tetap sama bagimu….

 

Hai wanita yang terduduk tenang

Tetaplah diam, biarkan ribuan pendaki berusaha menaklukanmu

Pada akhirnya mereka hanya mengagumi keindahanmu semata

Pada akhirnya mereka akan pergi lagi

Karena kau hanya akan menjadi singgahannya bukan menjadi rumahnya….

 

Jakarta, 25 Januari 2012

Iklan

Me vs Sahabat kecilku..

Sahabat…

Tak terasa puluhan tahun kita bersama

Jutaan tawa telah terderai

Jutaan tangis telah mengalir

Dan jutaan cerita telah terangkai

Kala manis menyatu dalam kepahitan

Kita bertemu dalam tawa yang diiringi airmata

 

Sahabat,

Mungkin kita tak pernah menyadari

Bahwa ada benang merah yang selalu mengikat kita

Saat kau berjalan dijalanmu

Dan aku melangkah dijalanku

Namun tangan kita sungguh bergandengan

Kita tidak bicara dalam bahasa kata

Tapi sungguh hati kita bicara

 

Kita selalu menjadi diri sendiri ketika bersama

Segala amarah dan tawa hanya hiasan belaka

Tak ada rasa iri dan benci diantara kita

Tawamu tawaku, tangismu tangisku….

Lukaku saat melihatmu berduka…

 

Tapi ada suatu waktu aku melihatmu terluka

Kau mengatakan tangismu dalam tawa

Dan aku tertegun

 

Ketegaranmu sesaat menggugahku

kau mampu tertawa saat badai datang

Kau bilang kau belajar dariku

Sahabat, sungguhkah dulu aku setegar itu sehingga kau kerap mengagumiku

Tapi hari ini sungguh aku yang kagum pada kekuaatan senyummu…

 

Sahabat, biar senyum ini menghapus lukamu

Biar candaku meluruhkan sedihmu

Hari itu aku melihatku dalam senyummu

 

Sahabat, semoga benang merah itu terus mengikat kita….

Karena bukankah suatu kebahagiaan jika memiliki sahabat

yang mampu bahagia di atas kebahagiaan sahabatnya

Dan menangis bersama Kala hidup mempermainkan kita

Dan saling mendukung saat satu tersakiti….

 

Sahabat, meski kita tak selalu bersama

Tapi biarlah hati kita selalu bersama dan tak rusak oleh kejamnya dunia, cobaan hidup atau ringannya lidah berkata…

 

Sahabat…aku menyayangimu

 

23 Januari 2012

Dedicated To Ita….

Me Vs Separuh jiwa

Langit semburat jingga
Matahari mendesah lesu
Kelelahan melanda
Terlalu lama dan kuat berpijar
Biar malam memeluk langit
Dan biar jiwa-jiwa yang sepi
Berteman bintang….

Pepohonan berdiri tenang
Menguatkan akar agar tak tumbang diterpa badai
Kudengar sudah banyak yang berguguran terlanda angin
Siapkah jiwa-jiwa sepi kala badai itu datang

Lampu jalanan mulai berpendar
Malam gegap gempita
Tapi cahayanya tak sampai ke hatiku..
Keceriaan hanya lalu lalang sampai di mata dan telingaku…

Kemanakah jiwaku yang separuh….

Jkt, 17 Januari 2012

Me Vs Rindu

Siang terkikis malam

Rembulan mengintip semu diantara gumpalan malam

Mencuri pandang..mencuri dengar..

tak henti berusaha memandang sekelumit wajah…

 

Adakah kau seperti rembulan itu…

meski malam kuat memeluk langit

namun tak jua lelah kau berdiri disana

menyingkap awan…mengintip aku

memastikan aku tetap tersenyum

 

Angin malam menerpa wajah…

adakah angin menyampaikan kerinduanku..

agar kau tahu meski hati ini tercabik karenamu…

namun masih dan selalu namamu yang bertahta disitu…

dalam tiap serpihannya……

 

16 Jan 2012

 

Me Vs sekotak ruangan

Di sekotak ruangan yang dingin dan sepi
Aku menangis
Bukan perkataanmu yg membuatku terhempas
Tapi sudah seburuk itukah aku berubah
Sudah sejauh itukah takdir menghilangkan logikaku…

Aku pernah berkata…
Ragaku penuh luka..kututup kedua mataku
Aku takut melihat dunia…
Tak mampu lagi kubedakan mana hujan dan badai
Tak mampu kurasakan lagi mana panas dan hangat

Kuberharap tangan tuhan memelukku melalui kedua tanganmu
Kuyakini tuhan menguatkan hatikku melalui bisikanmu di telingaku…
Tapi kau meninggalkanku…karena kebodohanku…

Air mata tak akan pernah mengering…
Luka yang lama belum juga tak akan pernah mengering
Kini ragaku semakin terluka…
Akan kututup kembali mataku
Akan kututup telingaku
Akan kunikmati luka yang bertambah di ragaku
Yang mungkin membuat tubuhku tak terlihat selain. Luka…
Akan kubawa berlari luka dan tangis dan perih…hingga menembus batas…

Kekasih, seburuk itukah lukaku  dimatamu
Sehingga kau sungguh membiarkan aku berdiri sendirian di ujung jurang kehancuran

dan meski angin hanya meniup perlahan, aku akan terjatuh
Sungguhkan ketulusan cintaku tak ingin lagi kau rengkuh ….
Meski hanya sampai ajal menjemputku…

Jakarta, 02 Jan 2012

%d blogger menyukai ini: