Archive for Maret, 2011

Me Vs Berhenti di senyummu..

Aku tertawa.
Bersamamu aku ingin selalu tertawa.
Bersamamu tangisku menjadi tawa
Bersamamu hariku indah semuanya.

Sungguh senyumanmu memikat hatiku
Sungguh caramu memandang menyanjungku.
Aku suka semua yang terpancar dari manisnya parasmu

Semua yang tersimpan di hati mengalir sempurna
Membuat kebahagiaan itu terasa semakin manis

Tapi sesaat ku terdiam.
Menatapmu dalam.
Sesaat kemudian ketakutan merayap ke seluruh relung hatiku.
Adakah senyum itu akan selalu bersemayan di pelupuk mataku…..

Jakarta, 29 Maret 2011

Me Vs impian belaka…

kau meyakinkanku tentang indahnya dunia di luar sana.
Tentang indahnya kicauan burung pagi,
Tentang sejuknya embun pagi.

Namun aku takut untuk melangkah
karena pernah saat berada di luar,
Dunia begitu kejam padaku.

Aku merasa tempat teraman adalah dalam rumah kaca ini.
Aku bisa melihat tanpa terluka.
Namun dia datang untuk melindungiku.
Matanya tertanam di hatinya.
Tubuhku terengkuh dalam pelukannya.

Meski pelukannya yang erat meremukan tubuhku,
Meski karena dalam rengkuhannya matanya tak sampai melihat mataku yang menahan sakit karena pelukannya.
Tapi saat ini sungguh hanya dia yang mau memberikan tubuhnya untuk melindungi diriku.

Kau berdiri di luar kaca pelindungku.
Meski matamu melihat yang terjadi padaku,
Meski telingamu mampu mendengar pekikan hatiku
Dan meski kau berteriak, duniamu di luar sana lebih indah,
Pada akhirnya hanya dia yang sungguh memberikan dirinya.
Hanya dia yang berani mengatakan dan memintaku
untuk berada di sisinya.

Bukan hanya impian dan angan belaka.

Jakarta, 28 Maret 2011

Me Vs Terulang lagi…

Aku termenung.
Sikapmu kembali menghantam hatiku.
Pernahkah kukatakan,
jika orang lain menyakiti hatiku, aku hanya akan tersenyum,
Namun saat dirimu yang menyakitiku, duniaku langsung remuk redam.
Aku telah menitipkan hatiku.
Begitu sulitkah menjaganya agar tetap hidup dan bernapas dari hentakan jantungmu dengan penuh cinta
Bagi dunia kau hanya seseorang,
tapi bagiku kaulah duniaku

Jakarta, 29 Maret 2011

Me Vs Berhenti di Matamu

Aku berhenti di matamu.
Mata yang tiba-tiba menyeruak diantara banyak mata yang menghujaniku.
Mata ini memandangku dengan manis.
Melompat-lompat diantara kerumunan.
Nyaris luput.

Harusnya tak terlihat olehku.
Tetapi kali ini memaksaku untuk merengkuhnya.

Aku mulai menatapmu.
senyuman tulus yang selalu menyertai mata itu beriringan dengan tutur kata yang sangat lembut.
Wajah yang menarik seakan melengkapi segalanya.

Dan kali ini aku menatapmu lagi.
Tak bisa lepas.

Aku mulai menyukai caramu mengagumi pandanganku,
Aku mulai menyukai caramu membuatku tersenyum.
Aku menyukai segala kesederhanaanmu.

Mungkin sebaiknya aku menundukkan pandanganku agar kau bisa bebas memandang dan menikmati debaranmu sendiri.
Semoga mata itu hanya akan memandang padaku.
Meski hati sedingin es juga yang justru akan mematikan matamu,
jika kau berdiri terlalu dekat…

Me Vs Mati asa

Aku mati asa.
mencintaimu sesaat membuatku mati asa.
Tatapan yang dulu sanggup membuatku berdetak terasa dingin.
Senyumanmu yang dulu sanggup membuatku tak bisa berhenti memikirkanmu terasa kejam.
Suaramu yang mampu menutup suara lain di hatiku seakan berhenti berkata. Kesempurnaan itu selalu milikmu.
Hanya milikmu.

Tapi semakin lama mencintaimu semakin terasa dingin.
Hanya dinding salju putih yang kau miliki.
Putih.
Dan tak mampu menghangatkan jiwa dingin untuk berlindung di hatimu.

cinta yang dulu sangat membiusku.
kini mulai menyadarkanku bahwa hanya aku yang menginginkan semua cinta ini…

Me Vs Dustamu..

Ketika kenyataanmu adalah kebohongan.
Aku terdiam.sunyi.tak bisa berkata-kata.
Aku benci sendiri.

kenapa hatiku tidak pernah salah.
kenapa hatiku selalu tahu yang sebenarnya.
Kenapa kenapa dan kenapa.
Kenapa selalu kebohongan demi kebohongan yang mengiringi kenyataanmu.

Samar,terjebak antara kejujuran, kebohongan,kenyataan dan cintaku.
kilahmu adalah inilah caramu menjaga kebahagiaanku.
Tahukah kamu, hatiku sakit untuk rangkaian dusta yang kau suguhkan untukku.

Pada suatu hari yang dingin, kau pertanyakan tentang sebuah kepercayaan ku padamu.
Yang dengan segala pernyataanmu tersirat makna, ketidakpercayaanku menghambat sosialitamu.

kau mintakan lagi keyakinanku padamu,
Meski hati berkata ini hanya upaya tuk kebahagiaanmu semata.
Aku patuh.

Tapi saat kepercayaan yang selalu punah itu kurangkai lagi,
kembali kau padamkan dengan dusta-dusta indahmu.

Kejam!
Kau tau itu akan sangat menyakitiku,
Tapi kau begitu menikmati tiap dusta yang kau ciptakan untukku.
Bahkan kau tak mengerti kenapa aku harus terluka hanya dengan dusta-dusta itu.
Tak tahukah kau kalo kebohongan itu, meski sedikit sangat menyakitkan.
Karena kaulah yang melakukannya.
Aku terjebak dalam cintaku sendiri.
Akankah kuat bertahan saat cinta berdiri tanpa suatu kepercayaan?

Me Vs aku menjawab…

Suatu hari kau melihatku merenung.
Suatu hari kau melihatku menangis.
kebaikan hatimupun terdorong untuk bertanya
“apakah yang tersembuyi di relung hatimu”

Sesaat nafasku tertahan.
Sesungguhnya begitu banyak yang terpendam
Sesungguhnya terlalu banyak yang harus kuungkap.
Agar penat di dada, penuh di kepala, sesak di bibir teruntai semua.

Meski berupa untaian riak sungai di pelupuk mata,
atau jeritan di ujung lidah atau
bom waktu yang siap meledak di dada.

Tapi senyum manismu menahanku.
Kebaikanmu menahanku.
Rasa sakit ini hanya milikku sendiri.
Dan harus kunikmati sendiri…

agar kala bahagia yang kutunggu datang,
akan kujaga dan kusyukuri dengan tegar berdiri.

%d blogger menyukai ini: