2 lilin dalam gelas

Waktu itu ngga sengaja mandangin lilin dalam 2 gelas kaca pas lagi makan di salah satu resto di Bilangan Bintaro. Soalnya banyak banget lalat yang ikutan makan – padahal ngga diundang –secara itu resto yang lumayan oke loh..kok  bisa bisanya beternak lalat.

 tiba tiba kepikiran tentang lilin..ups

Katanya semaknanya lilin itu selain bisa diremas-remas anak-anak biar bisa jadi mini visual, adalah sumber penerangan  selain bisa juga buat ngusir lalat ternyata, soalnya kata lalat kalo ada lilin, candle light dinner, berarti udah malam, udah waktunya pulang. 😉

Menerangi dalam kegelapan.  Mengorbankan diri dengan sekitarnya sambil melelehkan dirinya sendiri. Co Cweet.

Sungguh pengorbanan yang terasa manis..tapi kok kasihan amat ya jadi lilin. Terangnya ngga seberapa terang, Bertahannya  juga ngga seberapa lama. Apalagi lilin jaman sekarang, yang cepat banget  melelehnya. Biar cepat laku dan cepat laris. Apalagi di musim mati lampu seperti belum lama ini. Masa sampai supermarket sekelas  Kerpur  saja sampai kehabisan…

Trus kenapa dengan lilin? Kenapa ngga pake senter aja buat penerangan.

Saya lebih menyukai filosofi senter. Menerangi dalam kegelapan. Mudah dimatikan dan dihidupkan kembali  biar hemat energi. Tidak perlu ada adegan meleleh dan terbuang.  Mudah disimpan juga dan bisa memiliki  bentuk yang beraneka. Kalau sudah habis barerainya, bisa langsung diisi kembali. Tinggal ke warung, ngga report.

Sepertinya filosofi senter bisa lebih mantap. Dia bisa menerangi sekitarnya, tanpa harus mengorbankan dirinya sendiri. Toh fungsi utamanya adalah sebagai penerangan.

Kalau disisipi dalam kehidupan, sepertinya lebih bagus menjadi penerangan itu  dengan senter atau emergency lamp.

Tapi kenapa orang tetap memilih menjadi lilin, melelehkan dirinya demi kebahagiaan orang lain. Sepertinya secanggih apapun teknologi, lilin yang sederhana tetap terlihat lebih terang dibanding apapun. Dalam keadaan gelap yang dingin, dia berdiri tenang, sesekali bergoyang tertiup hembusan angin, namun tetap berusaha tegar.

Mungkin seperti itu indahnya sebuah pengorbanan, meski lelah mencoba berdiri, meski hancur lebur termakan aromanya sendiri, namun begitu dicintai dan begitu dihargai. Meski hanya dihargai oleh setitik air mata.

So, biarlah lilin tetap menjadi lilin yang tak tergantikan keindahannya.Meski dengan mudah angin meredupkannya, meski hanya dengan satu tiupan terurai semuanya,  namun dia akan tetap berusaha menjadi tempat berpanutnya api.

Lagipula yang ada hanya candle light dinner di romantic room, bukan? kagak ada senter light dinner atau mergency lamp dinner … 🙂

Iklan