Archive for Mei, 2009

Being widow…….

Mengapa setiap Mendengar kata ” janda” lantas asumsi negatif langsung tertuju ke perempuan yang menyandangnya. Entah janda cerai atau janda ditinggal mati oleh suaminya. Tapi akan menjadi terdengar positif  jika stempel itu melekat pada lelaki keren, rada berduit dan sudah menjadi duda yang kita kenal dengan sebutan “duren alias duda keren”.

Apapun sepak terjang sang janda akan menjadi pusat perhatian. Berusaha untuk akrab dibilang genit, berusaha menahan diri dalam bersikap dibilang jaim, menerima tawaran persahabatan dari lawan jenis dibilang gampangan dan ketika menolak banyak ajakan dibilang sok cantik.Belum lagi sekumpulan orang dalam suatu komunitas sibuk memperbincangkan dan menanyakan apa, mengapa dan bagaimana bisa terjadi juga every movement dari si perempuan.

Mungkin yang hampir tidak pernah terpikirkan oleh orang-orang adalah bagaimana beratnya saat seorang perempuan memutuskan untuk menjadi janda apalagi yang telah memiliki anak. Siapapun perempuan tentu tidak akan sudi untuk menjadi janda. Namun jika pernikahan itu justru tidak bisa menjadikannya mampu memperoleh keluarga  sakinah mawaddah warahmah, apakah pernikahan itu layak untuk dipertahankan?Atau ketika rumah tangga lebih mirip sangkar emas? Atau ketika pilihan menjadi janda adalah karena takdir maut yang memisahkan. Sekali lagi….tidak ada perempuan yang mendambakan untuk menjadi janda…

Mungkin orang-orang sibuk itu adalah orang yang memang belum pernah mengecap dunia pernikahan, atau kehidupan rumah tangganya tidak dianugerahkan ujian yang menyebabkan perpisahan atau juga rumah tangganya tak seindah yang diharapkan namun mencoba bertahan terus karena tidak berani mengambil keputusan dan lebih memilih menderita dan hidup di atas harapan dan pandangan baik banyak orang.

Pahamilah, para perempuan, kalian pasti pernah merasakan apa yang pernah dialami oleh layaknya perempuan yang menikah-jika kalian sudah menikah. So, tanpa banyak basa basi, berhentilah bergunjing dan bantulah sesama perempuan ini untuk bangkit dari trauma dan penderitaan panjang yang pernah mereka alami agar mereka bisa pulih dan dapat memperoleh kembali kebahagiaan yang terengut bukan malah dianggap seperti orang yang berpenyakit menular..ataukah kalian pun harus mengalaminya sehingga berhenti beranggapan bahwa kalianlah yang terbaik dibanding saudara kalian yang tidak seberuntung sekalian…

Yang pasti tidak ada perempuan yang mengimpikan dan mendambakan status janda. Dibutuhkan suatu keberanian lebih, usaha keras dan mental sekuat baja untuk akhirnya memutuskan menjadi janda.

—-31 May 2009—-

Tak pernah bisa merasakan…..

Aku disisimu  saat kau bukan siapa-siapa

Aku menemanimu saat sunyi hanya temanmu

Aku membuatmu  tersenyum

Terus berdampingan denganmu merajut banyak harapan dan impian

Bersama tertawa menatap langit  sambil perpegangan tangan

Menuliskan masa depan

Dengan batu dan kerikil yang terjal

Dengan tawa dan canda yang kadang bergelayut duri

Bagimu aku adalah dewi

Namun dalam perjalanannya

Kau tak lagi menganggapku sebagai dewi

Terus memberi tanda luka di seluruh relung hatiku tak bersisa

Dan saat banyak impian yang pernah kita tuliskan terwujud

Bukan dewimu ini yang menikmatinya

Bukan dewimu ini yang merasakan impian yang kita tulis bersama

Sesungguhnya aku tidak pernah meninggalkanmu

Hanya terlalu banyak luka yang kau torehkan

Sehingga aku tidak bisa terus mengikutimu

Hanya bisa menunggumu menjemput dan memapahku berjalan

Tapi ternyata kau lebih suka melihatku terluka dan berlalu

——25 May 2009—-

Begitu menyayangimu…..

Menunggu hampir 2 jam aku menunggu, di tempat biasa.

Sungguh pekerjaan yang membosankan,  andaikan bukan orang yang kucintai yang sedang kutunggu. Sudah puluhan bahkan ratusan mobil lalu lalang di depan mataku. Namun yang kuharap hadir belum juga kurasakan aromanya.

Terlintas di pikiranku…”kenapa dia selalu mendahulukan pekerjaannya dan membiarkan aku yang menunggu. Kenapa bukan pekerjaannya yang menunggu.” Aku begitu cemburu pada pekerjaannya. Meski jika bersamaku diapun mendahulukanku-tapi sesekali pekerjaan itu menyeruak juga diantara kami.

Aku begitu mencintainya, sehingga ingin selalu dipentingkan olehnya. Meski aku harus mengalah untuk banyak hal demi kesenangannya dan demi menjaga agar dia tetap bisa menjadi dirinya.

Sebenarnya aku lelah mencerewetinya dan mengomelinya. Meski kadang kurasa dia begitu menikmati diomeli olehku. Mungkin seperti suara Nina bobok versi rock n roll di telinganya yang dulunya sunyi..dia mulai terbiasa…

Dan kebiasaanya menggodaku dengan mengagumi yang lain selain diriku, meski sudah sering dan biasa, tetap saja membuat aku meradang dan bahkan menangis karena gemas, namun sekali lagi- dia begitu menikmati rasanya di cemburui…padahal aku lelah sekali. Meski aku tahu lagi lagi dia hanya ingin menggodaku. Mungkin ada perasaan bahagia bila masih dicemburui oleh kekasih.

Jika situasi dibalik, dia selalu terlihat tenang, seakan yakin bahwa hanya dialah dihatiku. Meski memang begitu adanya namun seharusnya dia tetap berusaha menjaga hatiku yang mudah kabur ini, karena banyak kehilangan yang  sering kurasakan.

Oh god, aku begitu mencintainya, aku hanya ingin membahagiakannya, seperti dia membahagiakan aku, meski bagitu banyak luka sayat di hatiku yang mengiringi langkahku…..

2 Jam sudah berlalu, dia masih belum bisa datang, meski kemarahan berkecamuk, namun aku tetap punya sejuta maaf untuknya…dan keesokannya meski dia memperlakukan aku dengan caranya, aku tetap tak bisa berhenti mencintainya. Bagaimanakah denganmu? semoga kata-katamu yang akan menyayangiku lebih dari 10 tahun, lebih dari 50 tahun..selamanya akan selalu jadi nyanyian manis di telingaku

——–25 May 2009—- for luv

Saya bukan ibu yang baik?

Ada satu statement yang mampir ke telinga saya. Yang intinya “Saya bukanlah Ibu yang Baik.”

Sama dengan halnya  menjadi  anak yang baik, pelajar yang baik, pegawai yang baik,sahabat yang baik…Be a good mom, juga membutuhkan suatu proses pembelajaran. Menjadi Ibu yang baik bukanlah sesuatu yang instant. Karena itu adalah fase baru juga bagi seorang perempuan, meski takdirnya adalah sebagai seorang ibu. Perlu yang namanya persiapan fisik, mental, materi, penyesuaian, pembelajaran, keikhlasan, pengorbanan, keseimbangan, kedewasaan hati, kesabaran, ketegaran, dan puluhan perasaan yang menyertai. Then mencoba menerapkan. Learn more and more

Saya teringat saya pertama kali menjadi seorang Ibu. Bukanlah hal yang mudah, semudah teori-teori yang tertulis rapi di buku panduan yang bertaburan dari mulai toko buku terkenal sampai emperan pinggir jalan.Tetap saja banyak rentetan hal yang harus dilalui

Tapi yang menyedihkan adalah perkataan ini terlontar dari mulut seseorang yang notabene Belum Pernah Menikah dan belum pernah memiliki anak. Kapasitasnya adalah dia akan menjadi ‘teman’ baru untuk ayah anak saya. Dia tidak pernah mengenal saya, tidak tahu bagaimana saya, namun sudah dapat memberikan penilaian hanya dari satu rekaman event di Hand Phone dan snapshot foto.I’m Surprised. Saya langsung dapat stempel bukan Ibu yang baik.

Apakah jika si Ibu sulit membujuk  anaknya agar mau makan sayuran (Inikan lazim bgt buat anak2, butuh tenaga extra), saya langsung  layak di cap Ibu yang tidak baik?

Apakah dengan mengajarkan anak agar berani mencoba berbagai makanan meski itu siap saji atau kemasan, saya bisa langsung  layak  di cap ibu yang tidak baik?

Apakah dengan membiarkan anak saya berinteraksi dan menyayangi orang lain selain ibunya, saya langsung layak di cap ibu yang tidak baik?

Apakah karena kelelahan mencari uang demi keluarga, ketika pada suatu waktu saya terkapar di ujung minggu dan tidak bisa bercengkrama dulu dengan anak, saya bisa langsung layak di cap ibu yang tidak baik?

Apakah ketika saya suatu waktu memukul sedikit anak saya untuk mendidiknya, saya bisa langsung layak di cap ibu yang tidak baik?

Saya rasa jutaan perempuan di dunia akan protes seperti yang saya lakukan saat ini.

Apapun itu, selain mengalami kelainan jiwa, tak ada ibu yang tidak sayang kepada anaknya. Meski kadang rasa sayangnya justru dipandang salah oleh orang sekitar.

Keberhasilan seorang ibu bukanlah saat anak masih seumur jagung, namun kelak saat jutaan waktu terpenuhi dan sang anak berhasil melalui masa sulit fase-fase hidupnya, hingga dia menjadi seseorang yang berguna dan tetap bisa menghargai serta menyayangi  ibunya, disitulah sesungguhnya seorang ibu dikatakan berhasil.

Dan bisakah jika  seseorang yang telah mengklaim saya dengan sepihak itu, saya katakan kegagalan ibunya karena tidak bisa menjadikan anaknya berkata hal-hal yang baik  untuk membangun orang lain.Kebaikan akan salah jika dilakukan dengan tidak tepat,bukan?

So, apapun itu, terima kasih untuk sebuah statement yang menggugah saya.Saya harap kelak ketika dia menjadi seorang ibu, apapun yang pernah dia lontarkan untuk saya tidak menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.

—Jakarta,15 Mei 2009—

Pemilu oh pemilu

Euforia pemilu sudah lewat dari hitungan sebulan.  Namun kerusuhannya makin terasa. Kecurangan  dan kepicikan yang dulu lumrah terjadi dan menjadi cara utama kedua untuk mendapatkan suara – cara pertamanya tentu saja orasi sambil bermusik dangdut ria diiringi tebaran aurat dan bagi bagi uang tunai pilihlah kami-  kini justru jadi agenda utama untuk memuluskan jalan guna melapor ke pengadilan agar dapat  menuding sana sini dengan label “curang”.

Mungkin kali ini karena pemenang pemilu bukan yang biasanya menang. Sehingga pemenang selain mereka dianggap curang. Ironi sekali demokrasi yang saya lihat ditelevisi kamar saya. Hal biasa. K alau maling biasanya lebih siaga dari yang bukan maling. Karena takut  trik sama yang mereka lakoni, dilakoni balik kepada mereka.Mirroring bgt

Bahkan sampai pemenang diumumkanpun tetap saja ada yang merasa perlu untuk berangkat ke pengadilan untuk mencari keadilan yang sebenarnya tidak perlu lagi.

Sesungguhnya rakyatlah yang kemarin itu memilih partai dan tokoh yang dianggap pantas untuk mereka. Jadi kalau ingin keadilan,  pergilah ke pengadilan rakyat. Biar rakyat pemilih yang memutuskan.

Bukankah hanya akan selalu ada satu pemenang? so kebayang gak sech jika setiap pemenang dipandang curang oleh puluhan yang kalah lalu kapan kompetisi ini akan selesai.

Wahai para aktor dan aktris politik, belajarlah untuk menerima kemenangan dengan wajar dan kekalahan dengan keikhlasan sehingga ini biasamenjadi suatu pembelajaran untuk next generation. so be sporty…….

—-Jakarta, 15 Mei 2009—

Saya Bukan penulis…cuma nekat menulis

Saya bukan penulis.  Hanya seseorang yang ingin bisa menulis.

Karena begitu banyak hal yang terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, terucap oleh lidah dan terdetak di dalam hati.  Yang pada akhirnya akan mengukir  senyum dibibir saya.

Entah senyum bahagia. Entah senyum  duka. Entah senyum sinis.  Atau senyum kebingungan dan kebodohan atas apa-apa yang terjadi.

Saya bukan penulis.  Hanya seseorang yang ingin bisa menulis.

Karena begitu banyak takdir yang berlalu lalang dalam hidup saya. Terlalu banyak kebaikan yang saya alami. Begitu sedikit  sekali keburukan yang saya terima.

Sedikit, karena satu pemahaman yang saya yakini.  Semuanya ada yang mengatur. Semua hal selalu ada hikmah yang dapat melapangkan jiwa.  Dan selalu ada kebaikan lebih besar yang mengikuti setiap perkara. Karena Allah bersama orang yang sabar.

Saya bukan penulis.  Hanya seseorang yang ingin bisa menulis.

Karena saya lebih pintar berbicara daripada menjentikkan jari untuk merangkai kata.

Tapi saya mulai belajar untuk mengganti  curhatan saya dengan tulisan. Karena dalam pembicaraan orang mudah membantah sebelum selesai .  Tapi dengan tulisan,  orang akan menyelesaikan dulu membaca sampai akhir kata. Sehingga semua kesalahpahaman mudah dipahami dan tidak ada kekurangan dalam mengungkapkan kata yang ingin disampaikan.

So dengan semua keterbatasan itu, saya mencoba untuk menulis isi hati saya.

—Jakarta, 15 Mei 2009—

Pagi yang basah di Jakarta

Setelah pergulatan panjang menahan rasa kantuk, lelah dan malas, akhirnya aku mampu berdiri di teras rumah. Lengkap dengan atribut kerja. Sebagai seorang pekerja,  kadang aku iri dengan orang-orang yang masih bisa menikmati empuknya bantal guling. Apalagi on rainy day seperti ini.

“Pakai payung, mam” titah suara kecil itu membuyarkan lamunan malasku.

Aku menatap wajah bulatnya dan bening matanya. Hariku menjerit. Seharusnya di pagi yang dingin ini, dia masih terdekap pulas dalam pelukanku. Bukan memandang kepergianku untuk kembali berkutat dengan pergumulan sengit di Jakarta.

“Ingat ya sayang, Mami bekerja  mencari uang agar sayang mami bisa menikmati banyak keindahan dunia tanpa harus menanggung yang tidak seharusnya. Jadi jangan malas sekolah dan mengaji yah.  Doakan mami selalu, agar jerih payah mami tidak sia-sia.” Ku usap rambutnya. Tak sadar air mataku mengalir dan air matanyapun mulai mengambang. Kami berpelukan erat. Terlalu erat bahkan.

Aku begitu menyayanginya dan tak mau nasib kami seperti artikel sebuah milis yang kubaca beberapa hari yang lalu.Tentang curhat seorang ibu yang berlimpah harta dan jabatan, namun anaknya lebih menyayangi pembantunya daripada ibunya sendiri.Klise memang. Tapi itu nyata.

Biarlah hanya seperti ini, namun dia bisa selalu merasakan kehangatan pelukan seorang ibu. Maafkan mami yang tidak bisa memberikan kesempurnaan untukmu, Nak. I Luv u

—Jakarta, 14 Mei 2009—

%d blogger menyukai ini: