Wanita itu duduk dengan tenang
Senyum manis terpatri di wajahnya
Semarak jika berada disisinya
Ucapannya lugas dan mampu menderai tawa
Matanya bening memacarkan kecantikan hatinya
Dia tenang
Terlalu tenang bahkan
Sampai letupan magma yang bergemuruh dihatinya
Tak mampu terlihat di kasatnya mata
Tiap bertemu seseorang, siapapun itu…
kerap menumpahkan seluruh isi hati kepadanya…..
Katanya seperti titah dan senyumnya…
lagi-lagi mampu meluruhkan kata-kata yang tak terurai…
Sungguhkah hidupnya begitu lurus….
Sungguhkan hidupnya begitu tenang……
Siapakah yang pernah tahu
Adakah yang pernah bertanya
apa yang berkecamuk dalam diamnya
Apa yang pernah terlihat oleh matanya
Apa yang pernah terdengar oleh telinganya
Apa yang pernah terucap oleh bibirnya
Apa yang pernah tertoreh dalam hatinya
Dan sebesar apa pisau yang menancap dan tertanam dalam hatinya.
Apa yang pernah membahagiakannya
Apa yang pernah mengurai airmatanya
Dan mengapa dia begitu tenang seperti gunung es?
Gunung es?
Begitu tinggi, begitu tenang, begitu diam, penuh misteri
Memaksa banyak mata berhasrat mengungkap rahasianya
Berusaha mendaki….sulit
Tapi disana nanti di ketinggian yang tak terhitung jari…
Akan terlihat keindahan yang tak terbersit di hati dan tertangkap di mata
Dan akan terlihat juga bahwa di dasarnya tetap ada magma yang meletup
Siap melelehkan dunia kala apinya tak terpadamkan….
Hai wanita yang terduduk tenang
Terimalah…..
bahwa takdirmu menjadi dingin
bahwa magma itu akan selalu tersimpan disana
apakah ada bedanya bagimu siang dan malam
kesendirian adalah nyata bagimu…
dalam dinginnya malam atau hangatnya siang
akan tetap sama bagimu….
Hai wanita yang terduduk tenang
Tetaplah diam, biarkan ribuan pendaki berusaha menaklukanmu
Pada akhirnya mereka hanya mengagumi keindahanmu semata
Pada akhirnya mereka akan pergi lagi
Karena kau hanya akan menjadi singgahannya bukan menjadi rumahnya….
Jakarta, 25 Januari 2012