Di sekotak ruangan yang dingin dan sepi
Aku menangis
Bukan perkataanmu yg membuatku terhempas
Tapi sudah seburuk itukah aku berubah
Sudah sejauh itukah takdir menghilangkan logikaku…

Aku pernah berkata…
Ragaku penuh luka..kututup kedua mataku
Aku takut melihat dunia…
Tak mampu lagi kubedakan mana hujan dan badai
Tak mampu kurasakan lagi mana panas dan hangat

Kuberharap tangan tuhan memelukku melalui kedua tanganmu
Kuyakini tuhan menguatkan hatikku melalui bisikanmu di telingaku…
Tapi kau meninggalkanku…karena kebodohanku…

Air mata tak akan pernah mengering…
Luka yang lama belum juga tak akan pernah mengering
Kini ragaku semakin terluka…
Akan kututup kembali mataku
Akan kututup telingaku
Akan kunikmati luka yang bertambah di ragaku
Yang mungkin membuat tubuhku tak terlihat selain. Luka…
Akan kubawa berlari luka dan tangis dan perih…hingga menembus batas…

Kekasih, seburuk itukah lukakuĀ  dimatamu
Sehingga kau sungguh membiarkan aku berdiri sendirian di ujung jurang kehancuran

dan meski angin hanya meniup perlahan, aku akan terjatuh
Sungguhkan ketulusan cintaku tak ingin lagi kau rengkuh ….
Meski hanya sampai ajal menjemputku…

Jakarta, 02 Jan 2012